1. Definisi
Secara sederhana inflasi diartikan sebagai meningkatnya
harga-harga secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua
barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau
mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Kebalikan dari inflasi
disebut deflasi.
Indikator yang sering digunakan untuk mengukur tingkat
inflasi adalah Indeks Harga Konsumen (IHK). Perubahan IHK dari waktu ke waktu
menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi
masyarakat. Sejak Juli 2008, paket barang dan jasa dalam keranjang IHK telah
dilakukan atas dasar Survei Biaya Hidup (SBH) Tahun 2007 yang dilaksanakan oleh
Badan Pusat Statistik (BPS). Kemudian, BPS akan memonitor perkembangan harga
dari barang dan jasa tersebut secara bulanan di beberapa kota, di pasar
tradisional dan modern terhadap beberapa jenis barang/jasa di setiap kota.
Jenis Jenis Inflasi
Inflasi dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu inflasi ringan,
sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga
berada di bawah angka 10% setahun; inflasi sedang antara 10%—30% setahun; berat
antara 30%—100% setahun; dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi
apabila kenaikan harga berada di atas 100%
Berdasarkan tingkat
keparahan atau laju inflasi
1) Inflasi Ringan (Creeping Inflation)
Inflasi yang tingkatannya masih di bawah
10% setahun
2) nflasi Sedang
Inflasi yang tingkatannya berada diantara
10% - 30% setahun
3)
Inflasi
Berat
Inflasi yang tingkatannya berada diantara
30% - 100% setahun
4)
Hiper
Inflasi
Inflasi yang tingkat keparahannya berada
di atas 100% setahun. Hal ini pernah dialami Indonesia pada masa orde lama.
Berdasarkan
kepada sumber atau penyebab kenaikan harga-harga yang berlaku
1)
Inflasi tarikan Permintaan, inflasi
ini biasanya terjadi pada masa perekonomian berkembang dengan pesat. Kesempatan
kerja yang tinggi menciptakan tingkat pendapatan yang tinggi dan selanjutnya
menimbulkan pengeluaran yang melebihi kemampuan ekonomi mengeluarkan barang dan
jasa.
2)
Inflasi Desakan Biaya, inflasi ini
berlaku dalam masa perekonomian berkembang dengan pesat ketika tingkat
pengangguran sangat rendah. Apabila perusahaan menghadapi permintaan yang
bertambah, mereka akan berusaha menaikan produksi dengan cara memberikan gaji
dan upah yang lebih tinggi kepada pekerjanya dan mencari pekerja baru dengan
tawaran yang lebih tinggi ini. Langkah ini mengakibatkan biaya produksi yang
meningkat, yang akhirnya akan menyebabkan kenaikan harga-harga berbagai barang
(inflasi).
3)
Inflasi Diimpor, inflasi dapat juga
bersumber dari kenaikan harga barang-barang yang diimpor. Inflasi ini akan
wujud apabila barang-barang impor mengalami kenaikan harga yang mempunyai
peranan penting dalam kegiatan pengeluran perusahaan-peruasahaan.
Berdasarkan
persentasi atau nominal digit inflasinya
1)
Moderate Low Inflation (inflasi 1 digit) misalnya 1% s.d 9%,
biasanya orang masih percaya dan memiliki daya beli dan juga nilai mata uang
masih berharga.
2)
Galloping Inflation (inflasi dua digit) misalnya 10% s.d
99%, dimana orang mulai ragu, daya beli menurun, nilai mata uang menjadi
semakin menurun.
3)
Hyper Inflation (inflasi tinggi diatas 100%) adalah proses kenaikan harga-harga
yang sangat cepat, yang menyebabkan tingkat harga menjadi dua atau beberapa
kali lipat dalam jangka waktu yang singkat, keadaan seperti ini orang-orang
sudah tidak percaya pada mata uang. Dimana nilai nominal uang jadi tidak
berharga jika situasi ini terjadi maka pemerintah melakukan Senering yaitu
pemotongan nilai uang.
Contoh
Masalah inflasi
yang pokok di Indonesia antara lain:
1) kenaikan haga bakar minyak (BBM)
Di
Indonesia, seringkali terjadi kenaikan harga BBm dari waktu ke waktu. Kenaikan
harga BBM juga dipengaruhi oleh tingginya permintaan dari masyrakat (konsumen)
dan rendahnya persediaan BBM tersebut.Selain itu, kenaikan harga BBM dipicu
oleh naiknya harga minya dunia. Tingginya harga minyak di dunia membuat beban
pemerintah untuk memberikan subsidi minyak semakin bertambah. Sebenarnya untuk
mengantisipasi masyarakat kesulitan membeli BBM dengan harga yang tinggi,
pemerintah menyediakan subsidi BBM kepada masyarakat.
2) Turunnya nilai riil kekayaan masyarakat
Nilai
riil yang dimaksud adalah nilai tukar kekayaan yang dimiliki seseorang dalam
bentuk kas, seperti uang. Saat inflasi terjadi nilai tukar uang akan menurun.
Misalnya, uang Rp 50.000,- semula dapat dibelikan 10 kg beras seharga Rp
5000,-/kg. Namun pada saat terjadinya inflasi pada 5 tahun kemudian, uang Rp
50.000,- hanya dapat dibelikan 5 kg beras karena harga berak yang naik menjadi
Rp 10.000,-/kg.
Selain
itu, menurunnya nilai mata uang terhadap daya beli membuat seseorang yang
memiliki investasi berupa aktiva tetap memiliki kekayaan yang bertambah.
Misalnya pemilik emas, tanah, dan rumah yang harga jual dari masing-masing
benda tersebut meningkat akibat inflasi.
2. Apakah inflasi itu selalu merugikan?
Menurut saya
inflasi tidak selalu merugikan.
Karena inflasi memiliki dampak positif atau menguntungkan bagi
pihak-pihak tertentu. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh
yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu
meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja,
menabung dan mengadakan investasi.
·
Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila
pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila
hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya
(biasanya terjadi pada pengusaha besar).
·
Bagi kegiatan ekonomi masyarakat, yaitu:
a.
Peredaran / perputaran barang lebih cepat.
b.
Produksi barang-barang bertambah, karena
keuntungan pengusaha bertambah.
c.
Kesempatan kerja bertambah, karena terjadi
tambahan investasi.
d.
Pendapatan nominal bertambah, tetapi riil
berkurang, karena kenaikan pendapatan kecil.
·
Bagi para pengusaha, yang pada saat sebelum
terjadinya inflasi, telah memiliki stock/persediaan produksi barang yang siap
dijual dalam jumlah besar.
·
Bagi para pedagang, yang dengan terjadinya
inflasi menggunakan kesempatan memainkan harga barang. Cara yang dipakai adalah
dengan menaikkan harga, karena ingin mendapatkan laba/keuntungan yang besar.
·
Bagi para spekulan, yaitu orang-orang atau badan
usaha yang mengadakan spekulasi, dengan cara menimbun barang sebanyak-banyaknya
sebelum terjadinya inflasi dan menjualnya kembali pada saat inflasi terjadi,
sehingga terjadinya kenaikan harga sangat menguntungkan mereka.
·
Bagi para peminjam, karena pinjaman telah
diambil sebelum harga barang-barang naik, sehingga nilai riil-nya lebih tinggi
daripada sesudah inflasi terjadi, tetapi peminjam membayar kembali tetap sesuai
dengan perjanjian yang dibuat sebelum terjadi inflasi. Misalnya, para pengambil
kredit KPR BTN sebelum inflasi yang mengakibatkan harga bahan bangunan dan
rumah KPR BTN naik, sedangkan jumlah angsuran yang harus dibayar kepada BTN
tetap tidak ikut dinaikkan.
3. Faktor yang memengaruhi investasi dalam perekonomian
Berikut ada
beberapa faktor yang mempengaruhi investasi yang telah saya himpun dalam
berbagai sumber, yaitu :
1)
Suku Bunga
Suku
bunga merupakan faktor yang sangat penting dalam menarik investasi karena
sebagian besar investasi biasanya dibiayai dari pinjaman bank. Jika suku bunga
pinjaman turun maka akan mendorong investor untuk meminjam modal dan dengan
pinjaman modal tersebut maka ia akan melakukan investasi.
2)
Pendapatan nasional per kapita untuk tingkat
negara (nasional) dan PDRB per kapita untuk tingkat propinsi dan Kabupaten atau
Kota
Pendapatan
nasional per kapita dan PDRB per kapita merupakan cermin dari daya beli masyarakat
atau pasar. Makin tinggi daya beli masyarakat suatu negara atau daerah (yang
dicerminkan oleh pendapatan nasional per kapita atau PDRB per kapita) maka akan
makin menarik negara atau daerah tersebut untuk berinvestasi.
3)
Kondisi sarana dan prasarana
Prasarana
dan sarana pendukung tersebut meliputi sarana dan prasarana transportasi,
komunikasi, utilitas, pembuangan limbah dan lain-lain. Sarana dan prasarana
transportasi contohnya antara lain :
jalan, terminal, pelabuhan, bandar udara
dan lainlain. Sarana dan prasrana telekomunikasi contohnya: jaringan telepon
kabel maupun nirkabel, jaringan internet, prasarana dan sarana pos. Sedangkan
contoh dari utilitas adalah tersedianya air bersih, listrik dan lain-lain.
4)
Birokrasi perijinan
Birokrasi
perijinan merupakan faktor yang sangat penting dalam mempengaruhi investasi
karena birokrasi yang panjang memperbesar biaya bagi investor. Birokrasi yang
panjang akan memperbesar biaya bagi pengusaha karena akan memperpanjang waktu
berurusan dengan aparat. Padahal bagi pengusaha, waktu adalah uang. Kemungkinan
yang lain, birokrasi yang panjang membuka peluang oknum aparat pemerintah untuk
menarik suap dari para pengusaha dalam rangka memperpendek birokrasi tersebut.
5)
Kualitas sumberdaya manusia
Manusia
yang berkualitas akhir-akhir ini merupakan daya tarik investasi yang cukup
penting. Sebabnya adalah tekhnologi yang dipakai oleh para pengusaha makin lama
makin modern. Tekhnologi modern tersebut menuntut ketrampilan lebih dari tenaga
kerja.
6)
Peraturan dan undang-undang ketenagakerjaan
Peraturan
undang-undang ketenagakerjaan ini antara lain menyangkut peraturan tentang
pemutusan hubungan kerja (PHK), Upah Minimum, kontrak kerja dan lain-lain.
7)
Stabilitas politik dan keamanan
Stabilitas
politik dan keamanan penting bagi investor karena akan menjamin kelangsungan
investasinya untuk jangka panjang.
8)
Faktor-faktor sosial budaya
Contoh
faktor sosial budaya ini misalnya selera masyarakat terhadap makanan. Orang
Jawa pedalaman misalnya lebih senang masakan yang manis rasanya, sementara
masyarakat Jawa pesisiran lebih senang masakan yang asin rasanya.
9)
Pengaruh Nilai tukar
Secara
teoritis dampak perubahan tingkat / nilai tukar dengan investasi bersifat
uncertainty (tidak pasti). Shikawa (1994), mengatakan pengaruh tingkat kurs
yang berubah pada investasi dapat langsung lewat beberapa saluran, perubahan
kurs tersebut akan berpengaruh pada dua saluran, sisi permintaan dan sisi
penawaran domestik. Dalam jangka pendek, penurunan tingkat nilai tukar akan
mengurangi investasi melalui pengaruh negatifnya pada absorbsi domestik atau
yang dikenal dengan expenditure reducing effect. Karena penurunan tingkat kurs
ini akan menyebabkan nilai riil aset masyarakat yang disebabkan kenaikan
tingkat harga-harga secara umum dan selanjutnya akan menurunkan permintaan
domestik masyarakat. Gejala diatas pada tingkat perusahaan akan direspon dengan
penurunan pada pengeluaran / alokasi modal pada investasi.
Pada
sisi penawaran, pengaruh aspek pengalihan pengeluaran (expenditure switching)
akan perubahan tingkat kurs pada investasi relatif tidak menentu. Penurunan
nilai tukar mata uang domestik akan menaikkan produk-produk impor yang diukur
dengan mata uang domestik dan dengan demikian akan meningkatkan harga
barang-barang yang diperdagangkan / barang-barang ekspor (traded goods) relatif
terhadap barang-barang yang tidak diperdagangkan (non traded goods), sehingga
didapatkan kenyataan nilai tukar mata uang domestik akan mendorong ekspansi
investasi pada barang-barang perdagangan tersebut.
10)
Tingkat Inflasi
Tingkat
inflasi berpengaruh negatif pada tingkat investasi hal ini disebabkan karena
tingkat inflasi yang tinggi akan meningkatkan resiko proyek-proyek investasi
dan dalam jangka panjang inflasi yang tinggi dapat mengurangi rata-rata masa
jatuh pinjam modal serta menimbulkan distrosi informasi tentang harga-harga
relatif. Disamping itu menurut Greene dan Pillanueva (1991), tingkat inflasi
yang tinggi sering dinyatakan sebagai ukuran ketidakstabilan roda ekonomi makro
dan suatu ketidakmampuan pemerintah dalam mengendalikan kebijakan ekonomi
makro.
Daftar
Pustaka
http://www.bi.go.id/id/moneter/inflasi/pengenalan/Contents/Default.aspx
pada tanggal 17 April 2015 pukul 10.46 WIB
http://bozzkaf.blogspot.com/2013/02/pengertian-inflasi-jenis-jenisfaktor.html
pada tanggal 17 April 2015 pukul 10.46 WIB
http://shiro-dawuhan.blogspot.com/2010/01/inflasi-1.html pada
tanggal 17 April 2015 pukul 11.22 WIB

Tidak ada komentar:
Posting Komentar